Ternyata Ada Penyakit Alergi Wi-Fi !

Ternyata Ada Penyakit Alergi Wi-Fi - Apa yang terlintas dibenak anda ketika mendengar kata Wi-Fi? Ya, tentu saja sumber internet tanpa kabel atau wireless tapi taukah apa itu sebenarnya Wi-Fi? 

Wi-Fi merupakan kependekan dari wireless fidelity yaitu sebuah media penghantar komunikasi data tanpa kabel yang bisa digunakan untuk komunikasi atau mentransfer program dan data dengan kemampuan yang sangat cepat. Kenapa bisa cepat? karena media penghantarnya menggunakan sinyal radio yang bekerja pada frekwensi tertentu.

Ternyata Ada Penyakit Alergi Wi-Fi
keepo.me

Electromagnetic Hypersensitivity (EHS)

Nama penyakit ini adalah electromagnetic hypersensitivity (EHS) yang membuat penderitanya merasa sakit atau mengalami gejala alergi ketika berada dekat dengan gelombang elektromagnetik seperti gelombang Wi-Fi, radiasi ponsel, dan perangkat elektronik lainnya. 

Perempuan bernama Kim De'Atta yang tinggal di Inggris ini mengaku menderita alergi Wifi (Sumber: Metro.co.uk)

Seperti dikuti dari Liputan6.com, seorang perempuan bernama Kim De'Atta yang tinggal di Inggris mengaku mengalami alergi terhadap sinyal Wi-Fi. Gara-gara alerginya itu, Kim menderita migrain, kelelahan, bahkan infeksi jika terpapar sinyal telepon maupun Wi-Fi. Akibatnya, ia pun jarang bertemu dengan keluarga dan teman-temannya.

Perempuan yang dulunya bekerja sebagai perawat ini juga harus memakai kelambu untuk melindunginya dari gelombang elektromagnetik saat sesekali meninggalkan rumah. Ia juga hanya bisa mengunjungi tempat yang susah sinyal telepon agar tak terpapar.

Alergi WiFi itu juga memaksanya pindah rumah hingga dua kali, sebab tiang-tiang telepon dibangun di sekitar rumahnya. Saat tidur, Kim juga harus memakai sebuah kelambu khusus.

Alergi Wi-Fi, Fakta atau Mitos?

Namun belum ada penelitian yang membuktikan apakah penyakit ini termasuk penyakit medis atau psikologis. Beberapa ahli di dunia kesehatan mengatakan kalau penyakit ini lebih banyak muncul karena masalah psikologis dan lingkungan daripada bawaan lahir.

Terkait hal ini, sebuah penelitian telah menemukan bahwa orang yang menderita gejala EHS, ketika mereka dihindarkan dan diisolasi dari gangguan gelombang elektromagnetik, entah itu dari sinyal Wi-Fi, ponsel atau layar komputer, merasa gangguan sakit kepala dan kelelahan yang mereka derita ketika berhadapan dengan alat-alat tersebut memang berkurang.

Namun, pada penelitian lainnya yang diterbitkan di jurnal Bioelectromagnetics, ditemukan bahwa para partisipan yang mengikuti penelitian sebenarnya tak menyadari kapan sinyal elektromagnetik itu dinyalakan. Dan sebelum penelitian dilakukan, mereka memang tidak diberitahu soal ini.

Dosen psikologi senior di King's College London, James Rubin mengatakan orang yang mengaku menderita EHS sejatinya memang sakit. "Tapi, sains percaya kalau bukan sinyal elektromagnetik yang menyebabkan mereka sakit," kata pemegang gelar doktor yang juga meneliti tentang EHS itu.

Dalam studi Rubin pada 2009 lalu, yang melibatkan 1.000 orang pengidap EHS, dia menyimpulkan Wi-Fi bukan pelaku utamanya. Sejumlah kondisi kesehatan dan lingkungan, yang berbeda pada setiap individulah yang mungkin bertanggung jawab dalam hal tersebut. Faktor lain yang berperan mungkin saja terjadi ketika seseorang tersugesti bahwa paparan sinyal elektromagnetik memicu gejala tersebut untuk muncul